Tim BKSDA mengevakuasi orangutan dewasa yang ditemukan pingsan akibat terpapar asap pekat karhutla di Ketapang, Kalbar. (Foto: iNews TV)

JAKARTA, iNews.id — CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, menilai kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke pusat rehabilitasi orangutan memberi ruang bagi pemerintah untuk melihat secara langsung dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa.

Bagi Jamartin, melihat kondisi di lapangan menjadi penting karena dampak karhutla terhadap orangutan tidak selalu terlihat hanya dari ada atau tidaknya api di kawasan rehabilitasi.

Meski areal pusat rehabilitasi BOSF belum tersentuh api, asap telah menyebar dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan terhadap orangutan, terutama yang sebelumnya telah memiliki masalah pernapasan.

Saat Gibran datang, BOSF mengajak Wapres melihat langsung orangutan di area sekolah serta satwa yang membutuhkan penanganan menggunakan nebulizer.

“Kami berpikir, seeing is believing. Beliau melihat langsung teman-teman kami bekerja memperhatikan orangutan dan bagaimana kami merawat mereka walaupun ada asap,” kata Jamartin, Senin (14/9/2026).

BOSF bahkan membatasi jumlah orang yang dapat masuk ke area tersebut. Jamartin mengatakan protokol itu dihormati oleh rombongan Wapres.

Menurut Jamartin, kunjungan tersebut membuat Wapres dapat memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi satwa dan proses penanganannya.

BOSF juga menjelaskan bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak hanya menyangkut orangutan.

“Dari apa yang beliau lihat dan dari pengalaman kami, beliau memberikan perhatian yang cukup besar terhadap satwa liar, tidak hanya orangutan,” katanya.

Jamartin menuturkan orangutan dapat menjadi simbol dari kondisi satwa liar lainnya di tengah karhutla.

Ketika orangutan yang mendapat pengawasan dan perawatan manusia saja terdampak asap, menurutnya, kondisi satwa lain yang masih hidup bebas di dalam hutan juga perlu menjadi perhatian.

“Kalau orangutan terdampak, bayangkan satwa liar lain di hutan yang juga terdampak,” ujarnya.

Namun, Jamartin berharap pengalaman yang dilihat langsung Wapres tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun penanganan karhutla yang lebih preventif.

Ia menilai salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah pola penanganan yang cenderung menguat setelah kebakaran terjadi.

Padahal, menurut Jamartin, pemerintah sudah memiliki berbagai indikator yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan sejak awal, termasuk curah hujan, suhu, serta lamanya suatu wilayah tidak mengalami hujan.


Editor : Kastolani Marzuki

Halaman Selanjutnya
Halaman :
1 2
BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network