Patroli juga dilakukan selama 24 jam. Regu pemadam ditempatkan secara bergiliran hingga tengah malam untuk memastikan kawasan yang telah dipadamkan tidak kembali terbakar.
Ancaman karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lahan. Kabut asap juga mulai memberikan tekanan terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Kalteng.
“Data ISPU menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada pada level tinggi, yakni 481 di Palangka Raya, 459 di Katingan, 442 di Kotawaringin Timur, dan 330 di Murung Raya,” ujarnya.
Mengantisipasi dampak terhadap masyarakat, Agustiar meminta penanganan kabut asap disertai pemenuhan kebutuhan warga terdampak. Posko terpadu, dapur umum, air bersih, vitamin, masker, hingga fasilitas oksigen diminta segera disiapkan oleh instansi terkait.
“Pastikan warga yang terdampak mendapatkan pelayanan yang diperlukan. Jangan sampai kondisi kabut asap menambah beban masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan bantuan segera,” ujar Agustiar.
TMC dan Bantuan Helikopter Diperkuat
Upaya penanganan juga dilakukan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tiga periode pelaksanaan telah diselesaikan, sedangkan periode keempat berlangsung mulai 26 Agustus hingga 2 September 2026. #Agustiar menegaskan, pemadaman tidak boleh menjadi akhir dari penanganan karhutla. Setelah api berhasil dikendalikan, kawasan tetap harus dipantau dan dibasahi untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait