7 Deretan Maestro Pelukis Indonesia yang Diakui Dunia, Nomor 6 Pernah Dipercaya Melukis di Kerajaan Belanda
5. Hendra Gunawan
Hendra Gunawan merupakan salah satu maestro pelukis Indonesia. Hendra lahir di Bandung, 11 Juni 1918. Salah satu lukisan karya Hendra berjudul Diponegoro yang Terluka.
Sebagian dari karya Hendra dapat dinikmati di sejumlah museum, seperti Ciputra Heritage Museum hingga Singapore Art Museum.
Ia tergabung dalam Kelompok Lima Bandung bersama empat maestro pelukis lainnya. Mereka adalah Barli Sasmitawinata, Sudarso, Affandi, dan Wahdi Sumanta. Affandi dan Wahdi Sumanta merupakan guru lukis Hendra.
Dalam karya lukisnya, Hendra kerap menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Oleh karena itu, ia mendapat julukan pelukis rakyat. Hendra meninggal dunia pada 17 Juli 1983.
6. Raden Saleh
Raden Saleh, memilik nama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman, lahir di Semarang pada 1807. Raden Saleh merupakan pelukis Indonesia yang dikenal dengan gaya romantisisme serta disebut sebagai pionir pelukis modern di Indonesia.
Sejak kecil, Raden Saleh telah belajar seni lukis kepada Antonie A.J Paijen dan J. Th. Bik. Bakat dan kemampuan lukis yang dimiliki Raden Saleh, membawanya untuk mengembangkan diri ke Eropa.
Pada 1829, Raden Saleh ke Belanda. Di Belanda, ia belajar melukis dari Cornelis Kruseman serta melukis panorama pada Andreas Schelfout. Raden Saleh juga berkesempatan menggelar pameran pertama di Amsterdam dan Den Haag pada 1840-an.
Lalu pada 1844, Raden Saleh dipercaya menjadi pelukis di Kerajaan Belanda. Salah satu lukisan Raden Saleh yang kerap diperbincangkan adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro. Raden Saleh meninggal dunia pada 25 April 1880.
7. Agus Djaya
Agus Djaya adalah maestro pelukis Indonesia. Agus lahir dari keluarga bangsawan Banten pada 1 April 1913. Pendidikan Agus sempat berlanjut ke luar negeri, tepatnya di Akademi Seni Rupa Amsterdam, Belanda.
Selama di luar negeri, ia berkesempatan untuk bertemu seniman kelas dunia, seperti Pablo Picasso dan Salvador Dali.
Agus dianggap sebagai salah satu pionir seni lukis Indonesia yang karya digemari di Jepang.
Seperti maestro pelukis Indonesia lainnya, Agus tak hanya melakukan pameran di Indonesia, namun juga di luar negeri. Ia pernah memamerkan karyanya di Galerie Barbison di Paris dan di International Art Gallery di Sydney. Agus Djaya meninggal dunia pada 24 April 1994.
Editor: Candra Setia Budi